Pengalaman Memakai Jasa Go-Jek di Cirebon – Setelah dalam postingan sebelumnya saya menginformasikan bahwa Go-Jek telah hadir di Cirebon, sayapun akhirnya memutuskan untuk mencoba memakai jasa Go-Jek di Cirebon.

Berawal pada saat akan pergi ke rumah teman yang berada di daerah Jl. Pilang Raya, Cirebon, saya memutuskan untuk memesan layanan Go-Ride (Ojek) dari Go-Jek. Pemesanan langsung saya lakukan dari smartphone di rumah (Komplek GSP). Setelah proses pemesanan selesai, dalam hitungan detik saya telah mendapatkan driver ojek yang akan mengantar saya. Mungkin karena posisi saya di komplek perumahan, driver ojek baru datang sekitar 7 menit (karena salah masuk jalan).

Kendaraan yang saya tumpangi yakni Honda Vario dan driver ojeknya menggunakan jaket dan helm Go-Jek berwarna hijau. Sayapun diberi helm Go-Jek. Selama perjalanan driver ojeknya mengajak saya ngobrol mengenai layanan Go-Jek di Cirebon. Bagi saya sih nggak masalah mau diajak ngobrol atau tidak, yang penting mengendarai kendaraanya enak dan aman. Rata-rata kecepatan yang ditempuh selama perjalanan dari GSP ke Jl. Pilang Raya sekitar 40 KM / Jam. Cukup santai dan bapak driver ojeknya enak diajak ngobrol.

Setelah melalui jalan Bypass yang panjang, akhirnya saya sampai juga ke tempat tujuan. Ongkosnya hanya Rp.11.000 saja. Sangat terjangkau.

Pulangnya dari Jl. Raya Pilang ke rumah saya memutuskan mencoba layanan ojek dari pesaingnya Go-Jek yakni Grab. Mau tahu reviewnya? Tunggu di postingan selanjutnya.

Kenapa Jam di Malaysia Lebih Cepat 1 Jam? Itulah pertanyaan yang dilontarkan teman-teman kantor saya pada saat melihat tayangan uji coba MotoGP dari Sepang, Malaysia. Akhirnya sayapun berpikiran sangat menarik untuk diulas di blog ini. Berikut penjelasannya.
Mungkin kita berpikiran bahwa posisi Kuala Lumpur memang sejajar dengan pulau Sumatera yang notabene nya masih dalam zona waktu WIB (Waktu Indonesia Barat). Sama saja dengan negara-negara lainnya yang sejajar (seperti Thailand dan Vietnam). Tapi kenapa zona waktu Malaysia berbeda sendiri?
Ternyata setelah ditelusuri lebih dalam dari browsing ke setiap website yang ada, alasan kenapa jam di Malaysia (khususnya wilayah Kuala lumpur) lebih cepat 1 jam di banding WIB adalah karena disesuaikan / diseragamkan dengan wilayah Malaysia yang berada di Sabah dan Sarawak per tanggal 1 Januari 1982.
Jika kita melihat sebuah peta dunia, wilayah Malaysia ada dua wilayah berbeda (Semenanjung Malaysia dan Malaysia Timur). Semenanjung Malaysia itu posisinya di atas pulau Sumatera (dekat Singapura) sedangkan Malaysia Timur posisinya di atas pulau Kalimantan (dekat Brunei Darussalam).

 

Pada tanggal 1 Januari 1982 tersebut pemerintah Malaysia membuat “Waktu Standar Malaysia”. Jadi waktu antara Semenanjung Malaysia dan Malaysia Timur adalah sama. Jadi berbeda dengan di Indonesia yang ada 3 zona waktu, WIB, WITA dan WIT. Jadi waktu di Malaysia itu adalah sama dengan WITA (1 jam lebih cepat dibanding WIB).
Berikut sejarah perubahan waktu yang saya sadur dari Wikipedia.
Di Semenanjung Malaysia:
  • Sebelum 1880, sesuai waktu min lokal Jakarta, 6j 46m 48s lebih cepat dari GMT. Setelah itu, 6j 55m 24s (menurut waktu Singapura).
  • Setelah 31 Mei 1905, dipiawaikan oleh British ke 7:00 GMT (Waktu Malaya).
  • Setelah 31 Desember 1932, dipercepat 20 menit untuk memperpanjang waktu siang.
  • Mulai 1 September 1941, dipercepat lagi 10 menit menjadi 7:30 GMT.
  • Mulai 16 Februari 1942, dipercepat dua jam sesuai waktu Tokyo, karena pendudukan Jepang di Tanah Melayu.
  • Mulai 13 September 1945, dikoordinasikan kembali sama seperti 1941.
  • Mulai 1 Januari 1982, dipercepat 30 menit untuk diseragamkan dengan waktu Sabah dan Sarawak dan kemudian disebut ‘Waktu Standar Malaysia’.

 

Di Malaysia Timur:
  • Sampai Maret 1926, Sarawak menurut waktu min lokal Jakarta, 7j 21m 20s lebih cepat dari GMT. Borneo Utara pula menurut waktu min lokal Jesselton. Setelah itu dikoordinasikan menjadi 7:30 GMT (Waktu Borneo).
  • Pada awal 1933, dipercepat 30 menit menjadi 8:00 GMT.
  • Waktu musim panas diperkenalkan antara 14 September dan 14 Desember, waktu ketika ini dipercepat 20 menit.
  • Mulai 1942, sesuai waktu standar Tokyo 9:00 GMT akibat pendudukan Jepang.
  • Mulai September 1945, dikoordinasikan kembali sama seperti 1933, tetapi tanpa waktu musim panas.
  • Pada 1 Mei 1982, waktu 8:00 GMT ini disebut ‘Waktu Standar Malaysia’.

Kita baru saja melewati tahun 2016 yang penuh dengan cerita seru. Mulai dari yang lucu, seru, suka, duka dan lain sebagainya. Pasti teman-teman juga punya cerita seru di tahun 2016 tersebut. Kini kita semua telah memasuki tahun 2017 yang tentunya semua orang ingin menjadi yang terbaik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kira-kira resolusi kalian di tahun 2017 ini apa?
Kalau saya sendiri tentunya ingin menjadi kepala rumah tangga untuk 1 istri dan 2 anak yang lebih baik lagi. Kemudian dapat memajukan lagi start-up yang sedang dikembangkan bersama teman-teman tempat saya bekerja saat ini dan juga dapat melebarkan usaha Jasa SEO Cirebon yang ingin saya perluas lagi.
Selain itu sebagai seorang blogger saya ingin memberikan kualitas postingan yang lebih baik lagi dan tentunya lebih berguna lagi untuk netter yang ada baik di Indonesia maupun luar Indonesia.
Mungkin itu saja sedikit sambutan awal saya di postingan awal tahun 2017 ini. Terima kasih sudah bersedia mampir dan baca blog saya. Selamat tahun baru 2017!

Dalam postingan pertama saya di blog baru ini, saya ingin sedikit bercerita tentang menjamurnya start-up lokal yang ada di Cirebon. Start-up lokal yang sedang ramai digandrungi saat ini mengusuk teknologi sebagai medianya.
Kalau saya lihat melalui media online yang ada, di Cirebon mulai bermunculan layanan ala “gojek” yang bertema sebuah layanan pesan-antar orang maupun barang. Diantaranya ada dari FUGO Express, COC, Laperan.com, Naik Yuk dan lain sebagainya.

Sebagian besar dari perusahaan start-up yang saya sebutkan tersebut sama-sama bersaing menyediakan layanan pesan-antara ataupun antar-jemput terbaik. Termasuk FUGO Express yang telah lebih dahulu ada di Cirebon kini ikut bermain teknologi aplikasi mobile. Kemudian munculah start-up lainnya yang juga sama bermain dalam teknologi aplikasi mobile.

Dengan luas Cirebon yang tidak begitu besar, memungkinkan pemain start-up tersebut mengusung harga murah dalam pelayanannya. Bagaimana tidak, dengan menggunakan kendaraan motor, 1 liter BBM kita bisa keliling kota Cirebon sepuasnya.

Tapi diluar itu, selain mementingkan sebuah aplikasi yang harus diperhatikan oleh pemain start-up adalah kualitas layanan. Jika kualitas layanan baik, maka akan semakin digandrungi oleh pelanggan. Namun jika sebaliknya, maka akan semakin ditinggal pelanggan.